Rabu, 06 Desember 2017

Agenda Umroh 9 Hari Pesawat Langsung Padang-Jeddah 2017

Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh!
Kaifa haluka?

Sedikit berbagi cerita pengalaman saya tentang perjalanan umroh 12-20 November 2017 yang lalu bersama AET PT. Penjuru Wisata Negeri. Yang mau cek infonya bisa langsung ke https://aet.co.id/

Overall, perjalanannya menyenangkan. Fasilitas dan pelayanan yang diberikan sangat baik, meskipun ada beberapa kekurangan karena perjalanan ini merupakan perjalanan perdana yang dilakukan. Dengan biaya 24,5 juta, kira-kira berikut garis besar perjalanan kami yang dapat saya rekomendasikan, terutama untuk warga Sumatera Barat.

1. Perjalanan langsung Padang-Jeddah menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Tanpa transit, tanpa lama-lama menunggu, tanpa ketidakpastian berangkat, dan pelayanan di dalam pesawat memuaskan. 9 jam perjalanan Padang-Jeddah dan sebaliknya akan kita habiskan dengan makan 2-3x berikut tersedia snack, air minum, bantal, selimut dan juga "ada TV-nya" khas Garuda Indonesia. Makanan yang disajikan pun adalah menu masakan Indonesia. 

2. Hotel bintang 5, makanan 3x sehari masakan Indonesia. Hotel bintang 5 banyak yang lebih dekat dengan masjid, sehingga lebih meringankan langkah kita ke Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Tidak perlu khawatir dengan makanan, karena sudah disediakan 3x sehari dengan menu masakan Indonesia. Tapi jangan expect terlalu tinggi, karena chef-nya bukan orang kita, tetapi rasanya cukup lumayan di lidah.

3. Tour leader dan muthawif (ustad pemandu umroh) pas di kloter saya banyak yang masih muda dan fasih berbahasa Arab, walaupun tidak semuanya. Sekalipun dari lahir sudah belajar Bahasa Inggris, komunikasi orang sana menggunakan Bahasa Arab. Jadi bagi yang sudah berniat belajar Bahasa Arab, mudah-mudahan bisa dipraktikkan di Mekkah dan Madinah. Kemudian, peserta benar-benar di-service, apalagi mengingat banyak peserta yang sudah "berumur" dan butuh bantuan disana-sini.

Nah, berikut saya ceritakan kegiatan harian kami selama perjalanan umroh. Namun mohon maaf jika disini saya hanya menceritakan perjalanannya saja. Saya tidak membahas bagian rohani mana yang tersentuh, atau hikmah apa saja yang diperoleh dari umroh tersebut. Karena pada dasarnya, hal itu kembali kepada diri kita masing-masing.

Day 1

Hari pertama, kami sudah berkumpul dengan mengenakan pakaian seragam batik di bandara. Satu kloter terdiri dari 306 orang yang sudah dibagi ke dalam 6 kelompok. Semua koper barang sebelumnya sudah dikumpulkan terlebih dahulu di kantor travel. Sehingga kami cukup membawa tas kecil saja. Bahkan paspor dan boarding pass dibagikan di bandara, karena sebelumnya sudah diurus oleh pihak travel. Sebelum memasuki pesawat, terlebih dahulu kami mendengarkan sambutan dari pihak AET PT. Penjuru Wisata Negeri, pihak Garuda Indonesia dan dilepas oleh Walikota Padang, Bapak Mahyeldi Ansharullah. Ceritanya kami adalah peserta penerbangan perdana pesawat langsung Padang-Jeddah. Sebelumnya, peserta haji/umroh dari Padang akan transit pesawat, bisa di Medan, Kuala Lumpur atau Jakarta. Dengan adanya penerbangan langsung ini, sangat memudahkan warga Sumatera Barat dalam melakukan ibadah haji/umroh.

Pukul 13.55 pesawat kami take off dan perjalanan ditempuh dalam 9 jam. Namun karena ada perbedaan waktu 4 jam lebih cepat di Arab Saudi, pesawat tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah pada pukul 19.00. Setelah melakukan proses imigrasi dan shalat jama' Maghrib-Isya, kami pun melanjutkan perjalanan ke Madinah dengan bus. Perjalanan ditempuh dalam waktu 7 jam atau 570 km, dan kemudian kami tiba di Hotel Jewar Elsaqefa Madinah pada pukul 4 pagi. Setelah check-in, kami langsung menuju Pintu 15 Masjid Nabawi untuk menunaikan ibadah shalat subuh perdana di mesjid tersebut.


Day 2

Setelah shalat subuh, kami kembali ke hotel untuk bersih-bersih, kemudian sarapan pagi. Saya dan Mama menempati kamar 912 di hotel, dimana setiap kamar umumnya ditempati oleh 4 orang. Setelah sarapan, kami belanja terlebih dahulu di toko-toko sekitar hotel, cukup berjalan kaki beberapa langkah saja, mulai dari pakaian, oleh-oleh, makanan, kurma, dll. Ajaibnya, pedagang-pedagang disana bisa berbahasa Indonesia. Minimal untuk mengatakan harga, jumlah, atau sekedar mengatakan "tipu haram". Dan jika kita sudah deal dengan pedagangnya, tandanya adalah dengan saling mengatakan "halal". Bagi para wanita Indonesia, siap-siap disapa dengan sebutan "Syahrini" yang merupakan panggilan pedagang Arab kepada wanita Indonesia. Cetar yaa..

Pukul 9 pagi kami kembali ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat Dhuha dan mendengarkan tausiyah dari pihak travel. Jalan kaki dari hotel ke pintu mesjid hanya memakan waktu 5 menit atau sekitar 500 meter saja. Jadi kita bisa dapet olahraganya, ibadahnya, dan juga pengalamannya. Dan tidak perlu khawatir haus, karena air zamzam tersedia di sudut manapun di Mesjid Nabawi.

Awalnya saya dan Mama beserta teman sekamar kami berniat langsung ke Raudhah dari pintu 25. Namun sayang sekali untuk para akhwat, pintu Raudhah hanya dibuka pukul 7-10 pagi, kemudian setelah zuhur hingga pukul 2 siang, lalu setelah Isya hingga jam 10 malam. Pada pagi itu, tausiyah selesai jam 10 pagi sehingga kami tidak berkesempatan ke Raudhah.

Apa itu Raudhah?
"Diantara rumahku dan mimbarku ada raudhah min riyadhil jannah (sebuah taman diantara taman-taman surga" (HR. Bukhari)
Rumah dan mimbar Nabi Muhammad SAW terletak di tengah Masjid Nabawi, dan Raudhah sendiri berada di belakang makam Nabi Muhammad SAW beserta Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau, dan untuk shalat dan berdoa disana, butuh antri yang panjang dan orang-orang tak segan-segan berebut untuk hal tersebut. Jangan khawatir, banyak askar wanita yang bertugas mengatur flow peserta yang hendak ke Raudhah. Mereka berpakaian hitam dan bercadar, juga sangat tegas dan baik hati. Mereka menguasai banyak bahasa, setidaknya untuk kita orang Indonesia, mereka bisa berkata "Ibu-ibu, duduk. Yang sudah, keluar. Shalat, sana."

Jika shalat di Masjid Nabawi pahalanya 1.000x lipat pahala shalat di mesjid lainnya (kecuali Masjidil Haram), keutamaan shalat dan berdoa di Raudhah itu seolah-olah kita sedang beribadah di taman surga. Banyak juga yang meyakini doa akan lebih diijabah disana. Aamiin ya rabbal aalamiin.

"Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di masjid itu (Masjidil Haram) lebih baik dari seratus shalat di masjid ini (Masjid Nabawi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Selesai mendengarkan tausiyah dan sedikit menengok ke pintu 25, kami digiring ke Museum Asmaul Husna yang bersebelahan dengan Masjid Nabawi. Disana kita dapat melihat asma-asma Allah beserta artinya, dan penjelasannya. Ada juga bagian studio untuk menonton video yang menunjukkan betapa kecilnya manusia dibandingkan alam semesta. Hanya sebentar disana, kemudian kami pun menunaikan shalat Zhuhur dekat dengan pintu 25 agar kemudian bisa langsung menuju Raudhah. Alhamdulillah, saya dan Mama berkesempatan untuk shalat di bawah mimbar Nabi Muhammad SAW. Kemudian kami pulang dan beristirahat.

Ba'da Isya pun kami kembali menuju Raudhah. Alhamdulillah ada kesempatan lagi shalat di Raudhah, walaupun tidak persis dibawah mimbar Rasulullah.


Day 3

Setelah mandi kemudian menunaikan Shalat Tahajud dan Subuh di Mesjid, lanjut kembali ke hotel untuk sarapan pagi, pukul 9 pagi kami pun jalan-jalan ke Mesjid Quba untuk sekedar shalat Dhuha dan membeli kurma muda yang konon katanya berkhasiat untuk kehamilan. Aku pun langsung beli 1 kg walaupun tujuannya belum bisa tercapai because I'm still single :)

Sejarahnya, Mesjid Quba adalah mesjid tertua di Madinah yang didirikan pertama kali Rasulullah pada tahun 1 H, disebut sebagai masjid yang dibangun dengan taqwa.
 
Selepas dari sana, kami mampir ke Kebun Kurma untuk belanja oleh-oleh. Kebun Kurma ini ternyata nama toko, padahal kami sebelumnya mengira ini adalah betul-betul kebun yang isinya pohon kurma, hehe.. Kemudian kami pun sempat melihat Mesjid Qiblatain dan Jabal Uhud, walaupun tidak mampir.
 
Sejarahnya, Mesjid Qiblatain artinya adalah mesjid dengan dua kiblat. Awalnya, kiblat shalat adalah ke Masjidil Aqsha. Pada suatu hari, Rasulullah mendapat wahyu Al Baqarah : 144 yang intinya mengubah kiblat ke Masjidil Haram.
 
"Sesungguhnya Kami lihat muka engkau menengadah-nengadah ke langit, maka Kami palingkanlah engkau kepada kiblat yang engkau ingini. Sebab itu palingkanlah muka engkau ke pihak Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu semua berada palingkanlah mukamu ke pihaknya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab mengetahui bahwa­sanya itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan tidaklah Allah lengah dari apapun yang kamu amalkan." (Q.S Al Baqarah : 144)
 
Sejarah Jabal Uhud adalah terjadinya Perang Uhud di atas bukit tersebut. Dimana umat Islam kalah dari kaum Quraisy karena meninggalkan Jabal Uhud sehingga dikuasai kaum Quraisy, sebab tergiur hendak mengambil harta rampasan perang. Banyak syuhada langsung dikuburkan disitu, salah satunya adalah sang panglima perang Paman Nabi, Asadullah (Singa Allah) Hamzah bin Abdul Muthalib. Kisahnya sendiri, Hindun istri Abu Sufyan menyuruh budaknya membunuh Hamzah dan kemudian memakan hati Hamzah sebagai wujud balas dendamnya karena Hamzah membunuh ayahnya saat Perang Badar. Seusai perang Uhud dan Rasulullah men-shalatkan para syuhada, dikabarkan bahwa jenazah mereka tetap utuh hingga sekarang. Sebuah buktinya adalah saat terjadinya banjir di Madinah dan jenazah tersebut mengapung dalam bentuk utuh, termasuk jenazah Sayyidina Hamzah.
 
 
Kembali ke cerita perjalanan, pukul 11.30 kami sudah kembali untuk shalat Zhuhur di Mesjid Nabawi, lalu kembali ke hotel untuk makan siang. Kemudian beristirahat sebentar untuk melangsungkan shalat Ashar di Mesjid, dan mendengarkan arahan umroh oleh muthawif hingga Maghrib. Lalu kami menunggu Isya sambil berbelanja, setelah Isya pun kami kembali ke hotel untuk makan malam, packing untuk besoknya melanjutkan perjalanan ke Mekkah, kemudian beristirahat. 

Day 4
 
Diawali dengan mandi pagi, lanjut shalat di mesjid, dan sarapan di hotel. Koper-koper kami pun mulai diangkut ke dalam bus. Namun acara bebas hingga Zhuhur, dan kami pun memilih untuk belanja. Maklum, geng ibu-ibu jadi kerjaannya belanjaaa melulu. Setelah shalat jama' Zhuhur dan Ashar, lanjut makan siang, barulah kami memulai perjalanan umroh.

Umroh memiliki rukun sebagai berikut :
1. Ihram
2. Miqat Makani
3. Thawaf
4. Sa'i
5. Tahallul
 
Lokasi Miqat ada beberapa tempat. Untuk peserta dari Madinah, lokasi Miqat adalah di Bir Ali, sekitar 90 km dari Mesjid Nabawi. Bapak-bapak sudah mengenakan ihram sejak di hotel sebelum berangkat, sedangkan ibu-ibu boleh mengenakan baju biasa yang menutup aurat. Kita melaksanakan shalat sunat umroh dan berniat umroh mulai sejak Miqat. 

Niat umroh :
لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ عُمْرَةً     
Labbaika Allahumma 'Umratan
"Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk ber-umrah"

Setelah itu, sepanjang perjalanan dianjurkan ber-dzikir, berdoa, dan membaca kalimat talbiyah :


لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ ,إنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَك
Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik, innal hamda wanni'mata laka wal mulk laa syariikalak"Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, ni'mat dan segenap kekuasaan adalah milikmu, tidak ada sekutu bagi-Mu."

Adapun larangan-larangan setelah ber-ihram adalah : Mencukur, memotong atau mencabut rambut, memakai wewangian, memakai pakaian yang berjahit, memotong kuku, menutup muka dengan sengaja, memakai sarung tangan bagi wanita, menyakiti hewan dan tumbuhan, berkata kasar, bertengkar, meminang/menikah. Jika dilanggar, maka kita wajib membayar dam atau denda.

Perjalanan dari Bir Ali ke Mekkah adalah sekitar 450 km. Setiba di Mekkah kami langsung ke Hotel Elaf Al Mashaer Mekkah untuk makan malam dan check-in pukul 9 malam. Pukul 12 malam, kami berkumpul di lobby dan bersiap menuju Masjidil Haram untuk umroh pertama atau thawaf qudum (thawaf selamat datang). Jarak dari hotel juga sekitar 5 menit atau 500 meter ke pintu Masjidil Haram.

Day 5

Hari yang baik diawali dengan thawaf qudum. Mulailah memasuki Masjidil Haram dengan bacaan :
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
“Allahummaf-tahlii abwaaba rahmatika”.
 “Wahai Tuhanku, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu”.

Kemudian, ketika melihat Ka'bah, ucapkan doa :
 
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فحَيِّنَا رَبَّـنَا بِالسَّلاَمِ.

"Allahumma antassalaam waminkassalaam fahayyina robbana bissalaam"
Ya Allah Engkau adalah As-salam dan hanya dari-Mu kesejahteraan dan langgengkanlah kami wahai Rabb kami dengan penuh kesejahteraan.

Berikut tata cara thawaf yang kami lakukan dengan bacaan paling sederhana.


Thawaf dimulai dengan istilam atau mengusap Hajar Aswad. Namun karena penuhnya umat yang melaksanakan thawaf, dengan sekedar melambaikan tangan dan mengecup tangan ke arah Hajar Aswad, mulai dari lampu hijau di sebelah kanan kita, sudah dianggap sah. Kita berputar berlawanan arah jarum jam, atau Ka'bah ada di sebelah kiri kita. Mulailah dengan melambaikan tangan dan berkata :
بِسْمِ اللهِ اللهُ أَكْبَر
Bismillahi Allaahu akbar
"Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar." 

Setelah mengecup tangan, barulah kita memulai dengan bacaan :
سُبْحَان اللهِ وَ الْحَمْدُ لِلّهِ وَ لآ اِلهَ اِلّا اللّهُ، وَ اللّهُ اَكْبَرُ وَلا حَوْلَ وَلاَ قُوَّة ِ الَّا بِاللّهِ
Subhaanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, wala haulaa walaa kuwwata illaa billaah.
“Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, dan tiada Tuhan melainkan Allah, Allah Mahabesar dan tiada daya maupun upaya kecuali dengan Allah."


Karena kemampuan bacaan kami yang minim, kami terus membaca doa diatas mulai dari Hajar Aswad hingga Rukun Yamani, diselingi doa-doa yang ingin kami panjatkan. Setibanya di Rukun Yamani, mulailah membaca :

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.
"Ya Rabb kami, karuniakanlah pada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka”.

Setelah sampai kembali ke Hajar Aswad, telah sampai hitungan 1x putaran thawaf. Hal yang sama dilakukan sebanyak 7x. Agar tidak lupa, kami saling mengingatkan antar peserta. Ada juga yang mengantisipasinya dengan membawa 7 buah karet, dan setiap satu putaran menaruh satu karet di salah satu jari yang ditentukan.

Selesainya, kami melaksanakan shalat di Hijr Ismail, yang juga untuk shalat disana butuh persaingan. Kemudian menyempatkan mencium Ka'bah. Kami juga shalat di belakang Maqam Ibrahim. Keliling Ka'bah 7x 300 meter - 1 km.

Sejarahnya, Hajar Aswad (Batu Hitam) adalah batu dari surga yang ditemukan Nabi Ismail dan diletakkan Nabi Ibrahim. Awalnya batu ini sangat terang dan dapat menerangi jazirah Arab. Namun lama kelamaan batu ini redup dan berwarna hitam. Rasulullah mencium Hajar Aswad, maka umat Islam pun mengikutinya.

Sejarah lainnya, Maqam Ibrahim adalah tempat Nabi Ibrahim membangun Ka'bah, dan Nabi Ismail berada di sebelahnya. pada Maqam Ibrahim, kita dapat melihat jejak sepasang kaki yang dipercaya sebagai jejak kaki Nabi Ibrahim.  Kabah pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim setelah menerima wahyu dari Allah SWT. "Bangunlah sebuah rumah untuk Ku di bumi."

Sejarah lagi, Hijr Ismail dibangun Nabi Ibrahim sebagai tempat berteduh saat membangun Ka'bah, bentuknya setengah lingkaran. Diriwayatkan Aisyah, "Aku pernah minta kepada Rasulullah SAW agar diberi izin masuk Ka'bah untuk shalat didalamnya. Lalu dia membawa aku ke Hijir Ismail dan bersabda: 'Shalatlah di sini kalau ingin shalat di dalam Ka'bah karena Hijir Ismail ini termasuk bagian Ka'bah.'" Maka diyakini Hijr Ismail adalah tempat maqbul-nya doa.

Selain itu ada juga Multazam, antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, yang biasa menjadi posisi Imam Masjidil Haram dan juga tempat doa diijabah. Ada juga Rukun Yamani yang jika diluruskan adalah menuju Yaman.  

Next, adalah sa'i atau berlari-lari kecil dari Bukit Shafa ke Marwa sebanyak 7x. Lari dari Shafa ke Marwa dihitung 1x, dari Marwa ke Shafa juga dihitung 1x. Jarak dari kedua bukit ini adalah sekitar 400 m. Untuk orang-orang yang sudah berumur, thawaf lanjut sa'i ini adalah perjuangan yang luar biasa. Namun semangat tak urung, dan Allah lah yang memberikan kekuatan. Jika selama thawaf kita tidak boleh batal wudhu, pada saat sa'i tidak apa-apa. Bahkan di dekat Marwa ada toilet besar.

Bagaimana sih sa'i itu?

Pertama, kita mulai di Bukit Shafa, lalu mengucapkan doa (1) :
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ

Innash shafaa wal marwata min sya’aairillaah
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah.” 

Kemudian menghadapkan diri ke Ka'bah (Hajar Aswad), sambil melambaikan tangan membaca doa :
 اللهُ أَكْبَراللهُ أَكْبَراللهُ أَكْبَر
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي ويُمِييْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَه
Allaahu akbar (3x)
Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyiii wayumiitu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir. Laa ilaaha illallaahu wahdah, anjaza wa’dahu manashara ‘abdahu wa hazamal ahzaaba wahdah.
"Allah Maha Besar (3x).
Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya, hanya bagiNya segala kerajaan dan hanya bagiNya segala puji dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang haq melainkan Dia, tiada sekutu bagiNya, yang menepati janjiNya, yang memenangkan hambaNya dan yang menghancurkan golongan-golongan (kafir) dengan tanpa dibantu siapa pun.”
Kemudian dilanjutkan dengan dzikir dan doa apapun. Tak jauh dari start, kita akan segera bertemu lampu hijau tempat para bapak-bapak berlari-lari kecil atau disebut Bathnul Waadi, lalu doa yang diucapkan (doa 2) :

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ تَعْلَمُ مَالاَ نَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ اللهُ الاَعَزُّ الاَكْرَمُ.

Rabbighfir warham wa'fu wa takarram, wa tajaawaz ammaa ta'lam innaka ta'lamu maa laa na'lamu, innaka antallahul-a'azzul-akram.
"Tuhanku, ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui. Sesungguh Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya Engkaulah Allah Yang Maha Mulia dan Maha Pemurah".
 
Lalu setibanya di Bukit Marwa, cukup dengan doa (1) saat melihat Bukit Marwa, dan doa (2) saat melewati lampu hijau, dan dzikir lainnya diantaranya.
 
Sejarahnya, Nabi Ibrahim dan istrinya Siti Sarah lama tak memperoleh anak. Lalu Siti Sarah mengizinkan Nabi Ibrahim menikah dengan Siti Hajar. Setelah lahirnya Nabi Ismail sebagai buah hati Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, timbul kecemburuan dalam diri Siti Sarah. Ia tak menginginkan Siti Hajar berada di Palestina bersama mereka. Akhirnya Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan Nabi Ismail ke Mekkah, negeri gersang tanpa penghuni bahkan air. Namun karena perintah Allah, Siti Hajar pun mengikhlaskan dirinya ditinggal oleh sang suami. Untuk mencari sumber air, Siti Hajar berlari keliling Bukit Shafa dan Bukit Marwa sebanyak 7x seolah melihat fatamorgana. Dan kemudian memancar air zamzam dari telapak kaki Nabi Ismail. Setelah itu, Siti Hajar didatangi oleh Bani Jurhum yang kemudian menjadi penduduk pertama yang bermukim disana.
 
Berikut doa Nabi Ibrahim atas perintah Allah meninggalkan istri dan anaknya di Baitullah :
''Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.'' (QS Ibrahim ayat 37). 
Bagi seorang wanita, Siti Hajar ini adalah wanita teladan bagi siapapun. Sungguh hatinya mulia, dan wajar saja jika kita mereka ulang apa yang ia lakukan saat kita beribadah haji/umroh.

Selesai sa'i, hal terakhir yang kita lakukan adalah tahallul, atau mencukur sebagaian rambut. Cukup sepotong kecil saja dari beberapa helai rambut. Yang berhak pertama kali mencukur adalah akhwat yang sudah pernah haji/umroh sebelumnya. Kebetulan Mama pernah haji tahun 2005, jadi tim kami pun tidak perlu khawatir soal tahallul.

Setelah itu, selesai lah rangkaian umroh pertama, dan kita lanjutkan dengan doa masing-masing. Kami lanjutkan dengan istirahat hingga shalat subuh di Masjidil Haram. Dan kemudian kembali ke hotel untuk sarapan pagi dan lanjut tidur. 

Satu catatan lagi, sebagai orang yang sering "beser", hal yang pertama aku intai dari suatu tempat adalah posisi toilet, apalagi di Masjidil Haram posisi toilet ada di luar masjid yang berjarak 400-500 meter dari Kabah. Untuk masuk dan keluar Masjidil Haram pun sangat tertib, sehingga jalannya lumayan jauh. Selama thawaf dan shalat, kita juga akan diatur oleh askar atau tentara Masjidil Haram yang sangat tegas. Mereka sering mengucapkan "Hajji, Yallah" agar kita tidak shalat di tempat lalu lalangnya orang. Selain itu, air zamzam ada di dalam maupun selasar Masjidil Haram sehingga kita tidak perlu takut kekurangan air minum.
 
Selesai merebahkan diri pasca sarapan, kami lanjutkan dengan shalat Dhuha hingga Zhuhur di Masjidil Haram. Lalu kembali untuk makan siang, dan mulai keluar hotel dengan bus yaitu ke Hudaibiyah untuk menengok unta termasuk membeli susu unta yang bener berkhasiat untuk pencernaan. Kami melanjutkan miqat di Hudaibaiyah dengan niat umroh ba'da Maghrib. Namun niat kami urung karena kami sempat salah masuk pintu thawaf, salah jalan cari toilet, sehingga badan pun tak sebanding dengan keinginan hati. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat, dan menyimpan niat umroh kedua di keesokan harinya.

Day 6
 
Hari ini adalah hari fokus ibadah, kami tergiring massa ke pintu thawaf yang benar tanpa sengaja, akhirnya membuat kami tahu kemana masuk dan keluarnya thawaf. Kami hanya berlima, aku sekamar plus seorang nenek yang sudah dititipkan anaknya ke Mama. Setelah thawaf sunat dan shalat Dhuha, lanjut dengan Shalat Jumat. Setelah itu makan siang, kembali ke mesjid untuk shalat ashar dan kembali ke hotel lagi untuk istirahat. Setelah shalat Maghrib di mesjid, kami pun menyinggahi rumah yang disebut sebagai rumah kelahiran Nabi Muhammad SAW berdasar kesepakatan para ulama. Lalu kami melaksanakan shalat Isya dan kembali ke hotel untuk beristirahat.
Day 7

Setelah rutinitas pagi biasa, jam 8 kami pun mulai jalan-jalan lagi keliling Mekkah. Kali ini tujuannya adalah Jabal Tsur, Jabal Rahmah, lalu sekedar melewati Muzdalifah, Mina, Jabal Nur.

Sejarahnya, Nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi di Jabal Tsur dari serangan kaum Quraisy, dimana Ali bin Abi Thalib menggantikan Nabi Muhammad di tempat tidur. Pada saat bersembunyi, Rasulullah sangat mengantuk dan tertidur di pangkuan Abu Bakar. Pada saat itu ada ular, namun Abu Bakar tidak membangunkan Nabi Muhammad, dan akhirnya ia pun dipatuk ular kemudian menggigil.
 
Nah, Jabal Rahmah ini adalah destinasi utama Mama. Disaat Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, mereka terpisah, Nabi Adam diturunkan di India dan Siti Hawa diturunkan di Jeddah. Kemudian mereka bertemu di Jabal Rahmah. Bukitnya lumayan berat didaki untuk para ibu. Namun tak menyurutkan niat Mama yang ingin mendoakan putrinya untuk segera bertemu dengan jodoh dunia akhiratnya :) Yang penting kita udah berdoa ya Ma...
 
 
Melewati Mina, sebagai tempat menginapnya peserta ibadah haji, juga tempat melempar jumrah. Tapi di-skip saja ya.
 
Selanjutnya kami berniat umroh kedua kemudian miqat di Arafah. Sesampainya di Masjidil Haram saat Zhuhur tiba, kami kembali untuk makan siang terlebih dahulu biar kuat umrohnya. Dan kami pun melanjutkan umroh, terpotong shalat Ashar, dan melanjutkannya hingga Maghrib. Hingga setelah Isya, baru kami kembali ke hotel untuk makan malam. Selanjutnya adalah packing dan istriahat karena kami akan segera kembali ke tanah air.
Day 8
 
Kami berangkat pukul 9 menuju Jeddah, yang cukup dekat yaitu sekitar 100 km dari hotel. Sebelum ke bandara, terlebih dahulu kami mampir ke Masjid Qishas yang dimanfaatkan sebagai penyelenggaraan hukuman qishas atau pancung atau pemotongan tangan karena mencuri, dsb. Setelah itu, kami lanjut ke Pasar Corniche Jeddah juga untuk membeli oleh-oleh. Barulah kemudian kami menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah untuk check-in dan bersiap pulang.

Proses check-in lumayan penuh pengalaman yang bikin senyum-senyum sendiri. Contohnya adalah ketika aku bisa berbuat banyak pada kakek-nenek, bapak-ibu dan peserta lainnya. Intinya, kebahagiaan datang saat kita mempermudah urusan orang lain. Kemudian pesawat kami take-off pukul 22.00. 
Assalamualaikum, Saudi.. semoga aku balik lagi hehe..
 
 
Day 9
 
Setelah 9 jam perjalanan, kami tiba di Bandara Internasional Minangkabau pukul 13.00. Setelah proses pembagian bagasi dan air zamzam, kami baru pulang ke rumah masing-masing pukul 15.00. Alhamdulillah, meski melelahkan, pengalaman ini tak terlupakan.

Saranku buat anak-anak muda yang punya banyak uang dan suka jalan-jalan, UMROH-LAH!
Karena uangmu adalah untuk ibadahmu, dan banyak yang akan kamu peroleh sepulang dari sana. Jauh lebih worth it daripada perjalanan ke luar negeri, karena ga cuma dapet jalan-jalannya, tapi juga ibadah dan pengenalan diri kita terhadap Tuhan dan agama kita.
 
Tips : 
1. Cari tahu suhu disana berapa. Kukira winter, ga taunya panas. Udah siap2 bawa longjohn, ternyata suhu 37 derajat. 
2. Buat akhwat, beli jilbab syar'i yang bergo aja biar praktis. Beli pakaian yang longgar dan nyaman. Tapi ga bawa baju juga gak apa2, bisa beli disana murah2 hehe. Kalo jilbab udah dalem, ada kaos kaki (dan kaos tangan), praktis ga perlu bawa mukena.
3. Bawa uang yang cukup untuk oleh-oleh, tak perlu ditukar ke riyal. Rupiah laku kok :)
4. Yang pergi suami istri, siap-siap terpisah sering karena masalah shaf shalat, atau kamar hotel. Pastikan selalu janjian ketemuan.
5. Meskipun mahal dan over-quota, gunakanlah paket data. Beli dari paket Indonesia aja biar ga perlu ganti nomor. Bukan buat update status, tapi minimal kita ga susah kalo dicariin peserta lainnya.
6. Sekali2 bisa nyuci manual kalo niat, kering dalam 1-2 hari. Kalo mau bawa pakaian terbatas, ga masalah.

Semoga bermanfaat ya, khususnya buat yang berniat dan akan kesana.
Wassalam.
 
 
 


Jumat, 21 Oktober 2016

Vaksin Meningitis Untuk Haji/Umrah di RSUP Fatmawati Jakarta Selatan

Sedikit mau bagi2 pengalaman tentang vaksin meningitis buat persiapan umroh nih.

Persis hari ini, 21 Oktober 2016 aku dan temenku Mbak Anne melakukan vaksin meningitis yang biasanya cuma bisa di KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan), kami lakukan di RSUP Fatmawati yang jaraknya hanya 750 m dari kosanku.

Sebelum cerita tentang pengalamanku, sebaiknya kita ulik dulu kenapa vaksin meningitis itu perlu. 
Meningitis adalah peradangan atau pembengkakan pada membran pelindung otak atau saraf tulang belakang (meninges). Peradangan ini terjadi karena infeksi akibat cairan di sekitar otak dan tulang belakang, disebabkan oleh bakteri atau virus, dan merupakan epidemik (wabah) di Afrika dan Timur Tengah. Itulah kenapa salah satu persyaratan pelaksanaan haji/umroh adalah dengan vaksin meningitis, yang berlaku selama 2 tahun. Ada juga penyakit MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrom yang disebabkan oleh Coronavirus), jadi disarankan untuk full stamina dan pakai masker selama beribadah nanti.

Pelaksanaan vaksin meningitis di Jakarta dapat dilakukan di :
  1. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas 1 Bandara Soekarno Hatta Jl. Area Perkantoran Bandara Soekarno Hatta 19120. Pelayanan Hari Senin – Jum’at 08.00-16.00.
  2. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas 1 Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur 13610 Telp 021-8000166. Pelayanan Hari Senin – Jum’at 08.00-16.00.
  3. Kantor Induk Pelabuhan Laut Tanjung Priok Jl. Raya Nusantara no. 2 Jakarta Utara Telp 021-43931045. Pelayanan Hari Senin – Jum’at 08.00-15.30.
  4. RSUP Persahabatan Rawamangun, Jl.Persahabatan Raya No.1 Rawamangun Jakarta Timur 13240. Telp 021-4891708
  5. RSUP Fatmawati, Jl. RS Fatmawati, Cilandak Barat, Kec. Cilandak`, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12430. Telp 021-7501524 Pelayanan Hari Senin – Jum’at 08.00-13.00.
Berawal hari Kamis aku menghubungi dengan tujuan agar memastikan bahwa benar RSUP Fatmawati menyediakan layanan tersebut. Dan petugas pun menyarankan aku untuk sudah mengambil nomor antrian jam 4 pagi karena kuota hanya untuk 150 orang.

Dan beginilah prosedur vaksin meningitis di RSUP Fatmawati :

Yang harus disiapkan :
1. Fotokopi paspor dan fotokopi lembaran paspor dengan 3 nama.
2. Foto 4x6 2 lembar
3. Uang tunai Rp. 305.000

1. Pengambilan nomor antrian
 Ga tau ya, orang-orang udah pada ngantri dari jam berapa, yang jelas aku nyampe RS jam 04.15 dan mendapat nomor antrian 44-45.

2. Pendaftaran nama
Setelah balik lagi ke kosan, jam 05.45 mulai dari nomor urut 1 sudah disuruh isi nama di blanko pendaftaran ulang sambil menyerahkan nomor antrian yang tadi didapat. Setelah itu, silakan cari sarapan dulu.

3. Pengambilan formulir
Jam 07.30 sudah mulai pengambilan formulir dan dipanggil per 10 nomor, dipanggil nama sesuai dengan yang kita catet sebelumnya, kemudian kita menyerahkan foto (1 lembar) dan fotokopi paspor ke petugas. Petugas akan memberikan formulir yang di-stapler bersamaan dengan foto dan fotokopi paspor dan juga nomor antrian yang baru (nomor yang sama, tapi beda kertas aja). Prosesnya cepet jadi harus standby.

4. Pembayaran  
Jam 08.30 kemudian kita melakukan proses pembayaran di kasir dan menyerahkan formulir yang telah diisi bersama dokumen pendukung. Petugas kemudian akan men-stempel dokumen kita, lalu menyimpan dokumen tersebut untuk kemudian input data ke buku kuning.

5. Proses Vaksinasi
Proses penyuntikan cepet banget. Kita dipanggil per 10 nomor yang dimulai setelah cluster nomor 1-10 selesai pembayaran (kira-kira jam 08.40). Vaksin disuntikkan di lengan kiri (bawah bahu), jadi persiapkan pakaian yang mudah ditarik dari atas (untuk wanita berjilbab), atau baju yang lengannya longgar yang bisa digulung sampe bahu.  

6. Pengambilan buku kuning
Menunggu sebentar setelah suntik, buku kuning sudah jadi (sekitar pukul 09.30).

Beres deh. Prosesnya cepat. Namun perjuangkan diri untuk bangun pagi agar bisa dapet antrian di awal-awal.

Berikut dokumen pendukung ya..


Rabu, 14 Oktober 2015

Trip to Bali 2015 - Mengejar Matahari

Perjalanan ke Bali kali ini lebih berasa buat aku, karena perginya ga ama rombongan, kemana-mana ngurus sendiri, dan yang pasti lebih puas, lebih have fun dan lebih menyenangkan karena perginya ama temen-temen yang menyenangan. Bukannya aku ga suka dua kali trip ke Bali sebelumnya, hanya saja karena dua trip yang lalu (tahun 2011 dan 2014) adalah karena tugas negara, jadinya kurang begitu menikmati. Meskipun beberapa tempat yang aku kunjungi sekarang pernah aku kunjungi sebelumnya. Dan tema kali ini adalah “Mengejar Matahari”, disini kami menikmati 3 sunset dan 1 sunrise di 4 tempat yang berbeda.

Berawal dari temennya temenku yang suka nawarin promo Air Asia, jadilah aku dan temanku Anne dan Mita mendapatkan tiket promo PP Jakarta-Denpasar untuk tanggal 10 Oktober jam 19.35 WIB dan 13 Oktober jam 22.55 WITA seharga Rp. 725.000 saja. Belinya sih sebulan sebelumnya, kemudian kami pun mulai menyusun itinerary dan aku pun bertindak sebagai EO (kan katanya dalam bertiga juga harus ada yang jadi ketua kan, hehe..)

Kami memulai perencanaan kami dengan searching plus booking2 di McD Fatmawati buat minjem wifi-nya. (Sekalian mention, sekarang pun buat nulis blog ini, eike lagi minjem wifi-nya Starbucks, sambil menikmati Frappucino yang lagi buy 1 get 1, haha...) Kembali ke cerita awal, hal pertama yang kami lakukan adalah booking hotel. Setelah searching2 di agoda dan booking.com, akhirnya pilihan kami jatuh ke The Agung Residence, bisa cek webnya di www.theagungresidence.com. Hotel bintang dua ini menurutku sih memuaskan sekali. Kami memesan satu kamar dengan tambahan extra bed, sehingga biaya penginapan kami menjadi Rp. 346.000 per malam dari agoda.com, kalau tanpa extra bed bisa hanya sekitar 200 ribuan saja. Kamar yang kami tempati sangat nyaman dan cozy, selain itu juga punya akses yang strategis, karena berlokasi di sekitar Dewi Sri Seminyak. Walau ga include breakfast, tapi pelayanannya sangat ramah, kamar dibersihkan, sudah tersedia handuk dan karena ada jendela, jadi kamar terkena sinar matahari. 

Foto di depan hotel nyaman kami, The Agung Residence, Seminyak
 Oke, kembali ke perjalanan kami. Setelah booking hotel, karena sulitnya transportasi di Bali, walaupun ada taxi Blue Bird dan Gojek, akhirnya kami memutuskan untuk rental mobil yang sudah sekalian dengan driver-nya. Alhamdulillah berdasarkan info dari temanku yang sebelumnya pernah ke bali, kami kembali mendapat fasilitas yang bagus. Dari Bli Ketut Wira dengan memperkenalkan lewat websitenya www.baliwahanatour.com, kami di-service secara over-bagus dengan Bli Made dengan mobil Avanza yang kami sewa selama 3 hari alias 3 x 12 jam dari jam 9 pagi sampai 9 malam seharga Rp. 400.000 saja termasuk bensin, dan kami tidak perlu menambahkan uang tip atau makan supir. Kami hanya perlu membayar biaya parkir atau biaya tiket masuk tempat wisata. Berbeda dengan bayangan kami bahwa driver akan men-drive kami untuk menuju tempat-tempat tertentu yang bisa saja dicurigai dia akan mendapat tip khusus karena membawa rombongan, Bli Made disini sama sekali tidak memaksakan kami ke tempat tertentu. Mengetahui kami jilbaban semua, Bli Made malah merekomendasikan kami ke wisata kuliner halal dan murah, mesjid-mesjid bagus dan bersedia serta siap sedia ketika kami butuhkan. Plus, selain wisata pantai, Bli Made punya rekomendasi museum atau monumen diluar itinerary kami, yang bisa dibilang wisata gratis. Bli seperti menyesuaikan kebutuhan pelanggannya, yang memang ala-ala setengah backpacker gini, haha.. Pokoknya, pelayanannya super ramah dan super memuaskan. 

Kami berangkat hari Sabtu malam dari Jakarta, dan tiba tengah malam di Denpasar. Menuju hotel kami di Seminyak yang hanya sekitar 8 km dari bandara I Gusti Ngurah Rai, namun dengan taxi bandara yang tanpa argometer, kami harus membayar Rp. 150.000 untuk taxi. Setibanya di hotel, kami pun langsung beristirahat mengumpulkan tenaga untuk tiga hari ke depan.

Day 1

Pagi jam 9, kami sudah dijemput Bli Made di depan hotel. Sebelum menuju tempat wisata, kami sarapan dulu di McD terdekat. Pagi ini target kami adalah ke selatan pulau Bali. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK) di daerah Uluwatu. Perjalanan dari Seminyak adalah sekitar 30 menit. Sesampainya di GWK, kami masuk dengan tarif Rp. 60.000 dan biaya parkir gratis. Saya tidak perlu menjelaskan keindahan di dalam GWK, karena untuk anda yang ingin ke Bali, tempat ini adalah tempat wisata yang kudu harus mesti dikunjungi. Mungkin bisa dibilang ini salah satu Landmark-nya Bali.

Garuda Wisnu Kencana bercerita tentang dua istri Rsi Kasyapa, Kadru dan Winata  yang bertaruh untuk menebak warna kuda terbang Ucaihswara yang akan datang ke bumi. Kadru memiliki anak para naga, sementara Winata memiliki anak burung garuda. Siapa yang salah tebak, akan menjadi budak bagi yang menang. Kadru menebak warna kuda adalah hitam, sementara Winata menebak warna kuda adalah putih. Kemudian setelah bertaruh, Kadru pun mendapatkan informasi dari anak-anaknya bahwa warna kuda terbang Ucaihswara adalah putih. Karena takut kalah, sebelum Winata melihat kuda tersebut, Kadru dan anak-anaknya menyihir kuda tersebut menjadi berwarna hitam. Akibatnya Winata kalah dalam pertaruhan, ia dan anaknya menjadi budak bagi Kadru dan anak-anak naganya. Mengetahui kelicikan ibu tirinya, Garuda pun ingin memebaskan ibunya dari perbudakan. Kadru pun kemudian berjanji akan melepaskan perbudakan jika Garuda mendapatkan  Tirta Amertha, atau air suci yang jika diminum akan menjadikan yang meminumnya hidup abadi.
Tirta Amertha dimiliki oleh Dewa Wisnu, dan Dewa Wisnu akan memberikannya kepada Garuda asalkan Garuda mau menjadi tunggangan Dewa Wisnu. Menerima persyaratan tersebut, Garuda pun berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan ibu tiri dan saudara tirinya. Dikisahkan selanjutnya, tetesan Tirta Amertha jatuh ke ilalang, sehingga para naga meminumnya dari ilalang yang setajam pisau, sehingga saat menjilatnya, lidah para naga malah terbelah. Begitulah kenapa naga memiliki lidah yang terbelah dua. Dan kejadian ini menyebabkan Garuda Wisnu Kencana, yaitu Garuda yang menjadi tunggangan Dewa Wisnu. Pada saat ini, patung Dewa Wisnu dan Garuda masih terpisah-pisah, tujuan akhirnya adalah menjadikan kedua patung tersebut bersatu setinggi 120 meter untuk menjadi monumen sakral di Bali.

 
Patung Dewa Wisnu

Patung Garuda

Di GWK sendiri, kami pun sempat menikmati pertunjukan tari Bali selama 40 menit, gratis, di amphiteatre. Mulai dari Tari Sekar Jepun, Tari Topeng Monyet, Tari Baris dan Tari Barong-Rangda. 

Tari Sekar Jepun, salah satu tari Bali yang dipertunjukkan di GWK

Setelah dari GWK, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Pandawa yang sangat ramai dengan turis domestik. Bermodalkan biaya masuk Rp. 4.000 per orang, disambut dengan patung Pandawa Lima mulai dari Dewi Kunti, Bima, Arjuna, Nakula, Sahadewa, kemudian pemandangan paralayang dari atas langit Pandawa, pantai Pandawa ini sangat ramai dan bersih. Penuh dengan turis domestik yang berenang di pantai, dan kami pun ber-canoe ria selama 1 jam meminjam double canoe seharga Rp. 50.000 per jam untuk sampai ke dataran ganggang yang tidak begitu jauh dari pinggir pantai.

Double canoe selama satu jam menuju dataran ganggang

Dataran ganggang sekitar 100 m dari pinggir pantai, yang memperlambat gelombang laut sampai ke pantai

Puas mendayung dan menikmati indahnya laut dan langit biru Pantai Pandawa, kami pun kemudian bersih-bersih dan menikmati es kelapa yang butirannya lumayan besar dan berisi daging yang padat di sekitar pantai. Harganya Rp. 20.000 saja.

Kelapa muda besar di Pantai Pandawa
 Kemudian kami makan siang di Nasi Campur Ibu Oki yang harganya dibawah Rp. 30.000, yang berlokasi di Uluwatu. Ini nasi campur Bali terenak yang pernah aku makan. 

Nasi Campur Ibu Oki yang enak dan pedas
Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Luhur Uluwatu. Biaya masuk Pura Uluwatu sendiri adalah Rp. 15.000 per orang. Disini agak singkat, kami cukup berfoto-foto dengan pemandangan indah dan monyet-monyet nakal di Uluwatu, karena kami mengejar penampilan tari kecak jam 18.00 yang katanya penampilan kecak terbagus di Bali. Sebelumnya kami memesan tiket online seharga Rp. 85.000 per orang di www.uluwatukecakdance.com. Selain lebih murah (kalau beli on the spot Rp. 100.000), kita tidak takut kehabisan dan antri tiket on the spot. Dengan pemandangan sunset, selama satu jam kami sangat menikmati penampilan kecak dengan cerita Rama-Sinta ini.

Rama yang harus pergi menitipkan Sinta pada adiknya Laksamana. Namun Laksamana kemudian meninggalkan Sinta, namun ia menciptakan lingkaran di sekitar Sinta. Kemudian Rahwana yang jahat tertarik pada Sinta, tetapi karena Sinta dipagari oleh lingkaran yang diciptakan Laksamana, ia tidak dapat membawa Sinta pergi. Kemudian Rahwana menyamar menjadi orang tua yang meminta air minum pada Sinta. Sinta, yang sudah dipesan oleh suaminya Rama agar tidak keluar, merasa kasihan pada orang tua tersebut. Alhasil, ia pun berhasil dibawa pergi oleh Rahwana. Kemudian di kerajaan Rahwana, Sinta ditolong oleh Garuda, namun Rahwana malah melukai sayap Garuda. Setelah sampai berita pada Rama, kemudian Rama meminta bantuan Hanoman untuk menyelamatkan Sinta. Hanoman si kera putih, harus berhadapan dengan kera merah dan saudara-saudara Rahwana. Akibatnya, Hanoman pun diikat dan dibakar oleh pasukan Rahwana. Namun karena kesaktiannya, Hanoman berhasil lolos. Kemudian ia kembali pada Rama untuk kemudian untuk bersama-sama menaklukkan Rahwana dan membebaskan Sinta. Selanjutnya, Rama dan Hanoman pun membasmi Rahwana dengan memenggal kepala Rahwana dan menenggelamkannya ke dalam gunung, dan kemudian Rama pun bersatu dengan Sinta.

Sunset sambil menikmati pertunjukan Tari Kecak di Pura Luhur Uluwatu
Puas setelah pertunjukan, kami pun pulang ke hotel sedikit bermacet-macetan menuju Seminyak, dan di daerah Dewi Sri pun kami menimati makan malam di Nasi Pedas Bu Andika yang cukup terkenal, dan harganya pun dibawah Rp. 25.000.

Day 2

Kembali dengan perjalanan pukul 9 pagi, hanya saja sebelumnya kami sarapan dulu dengan roti dan pop mie yang sebelumnya kami beli di Alfamart, kami pun memulai perjalanan dengan belanja. Pagi ini kami ke Pia Legong yang antrinya panjang, dan cuma boleh beli maksimal 2 box, pia coklat enak yang harganya Rp. 90.000 per 8 pcs ini terkenalnya udah sejagat raya. Bahkan sekarang sudah ada rasa kacang hijau dan keju. Setelah itu, kami ke Krisna untuk belanja oleh-oleh khas Bali. Setelah belanja, persis di dekat Krisna, kami ke tempat makan terkenal yaitu Ayam Betutu Gilimanuk yang harganya tidak sampai Rp. 40.000 per porsi ini. Lagi-lagi, ini ayam betutu paling enak yang pernah aku makan. 

 
Ayam Betutu Gilimanuk di Kuta

Selesai makan siang, kami lanjut lagi belanja di Joger, masih sekitaran wilayah Kuta. Puas belanja, kami pun shalat di Mesjid Ibnu Batutah, di Pusat Peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua, yang terkenal sebagai tempat peribatan lima agama, mulai dari mesjid, gereja Khatolik dan Protestan, pura dan wihara yang bersebelahan. Menuju Nusa Dua, kami pun melewati Tol Bali-Mandara (Aman, Damai, Sejahtera) dengan biaya tol Rp. 10.000. Tolnya melewati Teluk Benoa, dengan jalur khusus motor di pinggir-pinggirnya.

Tol Bali-Mandara
Pusat Peribadatan Puja Mandala
Setelah beribadah plus foto-foto di tempat ibadah lainnya, kami kembali ke arah selatan Bali, yaitu Pantai Padang-Padang yang belum begitu terkenal. Namun karena akses masuknya lumayan melelahkan karena harus turun tangga yang lumayan panjang, kemudian pantai dengan area kecil penuh bule-bule berjemur, dalam 5 menit kami pun langsung memutuskan untuk pindah ke lokasi berikutnya.

Pantai Padang-Padang penuh bule
Barulah kami ke tempat wisata yang juga kudu harus mesti dikunjungi di Bali, yaitu Pantai Dreamland. Sebelum ke kawasan pantai, kami bisa shalat dulu di Mesjid Agung Palapa yang juga sudah masuk kawasan Dreamland. Mesjidnya besar dan sepoi-sepoi. Dengan biaya masuk pantai Rp. 5.000 per orang, kami pun menikmati sunset di pantai yang rame dengan bule-bule surfing disini. Ombaknya cukup besar, pantainya dikelilingi tebing-tebing dan ganggang-ganggang jelas terlihat. Kawasan pantai lumayan panjang, dan sunsetnya? Tidak perlu ditanya. 

Pantai Dreamland, alias New Kuta Beach
Setelah sunset, kami pun pulang dan sebelumnya mampir dulu makan malam di d’sambal dekat kampus Universitas Udayana. Menunya adalah ikan jangki (kakap) bakar pedas dengan sayur kangkung dan jamur, serta aneka sambel. Satu porsi pun dibawah Rp. 40.000, dan rasanya maknyos. Mungkin karena rasanya ga terlalu Bali alias sudah sesuai dengan lidah Sumatera-Jawa, ini adalah menu paling nikmat selama perjalanan kami.

Day 3

Pagi ini dengan semangat kudu harus mesti lagi, kami memesan taxi Blue Bird berangkat jam 5 pagi dari hotel menuju Pantai Sanur, selama 30 menit dengan jarak 16 km ke arah timur dari Seminyak. Tarif Blue Bird Rp. 108.000, kami sampai di Pantai Sanur. Kami pun menikmati mulai dari semburat ungu fajar hingga tergelincirnya matahari di Pantai Sanur. Sampai kami basah keringat oleh sumber vitamin D ini, jam 8 kami pun menikmati Sup Ikan Cakal (Kuwe) dan Ikan Cakal Goreng plus nasi seharga Rp. 45.000 all-in di Warung Mak Beng yang berlokasi di dekat pantai ini. Kami pun dijemput Bli Made jam 9 persis di depan Mak Beng. Kemudian kami diantar ke hotel, Bli Made menunggu kami bersih-bersih dan check-out, jam 10.30 barulah kami menuju tempat wisata berikutnya.

Suasana Sunrise di Pantai Sanur

Sup Kepala Ikan Cakal dan Ikan Cakal Goreng di Warung Mak Beng Pantai Sanur
Kami mampir di Monumen Bom Bali, Legian. Hari ini adalah tanggal 13 Oktober 2015, tepat 13 tahun plus 1 hari setelah kejadian Bom Bali 12 Oktober 2002. Kami mendapati banyak karangan bunga dari keluarga korban bom yang ditinggalkan. Kami terenyuh dengan kata-kata yang tertinggal di karangan bunga tersebut, misalnya “Gone but not forgotten, Mom and Dad love you”. Langsung kebayang, andaikan aku meninggal di negeri orang jauh dari keluarga, betapa sedihnya keluarga yang aku tinggalkan. Mending kalau khusnul khatimah, semoga saja tidak mati dalam keadaan yang salah. Suatu hikmah spiritual yang bisa aku resapi selama di monumen tersebut. Btw, disini parkirnya mahal, Rp. 20.000 per mobil. Ew....

Monumen Bom Bali, Legian

Setelah itu kami mampir ke Pantai Kuta, yang juga kudu harus mesti, ga ke Bali kalo ga ke Pantai Kuta. Disini isinya bule semua. Mulai dari surfing, berenang, yang masih belajar2, atau yang sekedar berjemur dan piknik2 cantik. Banyak hotel di sekitar pantai. Tapi diluar itu semua, pemandangan langit dan laut birunya luar biasa, walaupun matahari teriknya luar biasa juga.

Pantai Kuta
Di depan tulisan Pantai Kuta :)
Puas menyusuri Pantai Kuta, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Denpasar. Kami mampir ke Monumen Braja Sandhi, yang juga landmark-nya Denpasar. Disini kami mengenal sejarah perang puputan (habis-habisan) warga Bali, mulai dari zaman kerajaan Klungkung, hingga perjuangan dibawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai pada perang kemerdekaan. Semuanya adalah melawan Belanda. Disini pun saya mengerti, betapa berjasanya pahlawan bernama I Gusti Ngurah Rai pada rakyat Bali, sehingga namanya diabadikan menjadi nama bandara dan nama jalan terpanjang di Bali. Monumen ini dibangun simetris untuk keempat sisi, dengan lapangan yang lebar dan luas, serta ibarat mercusuar, kita bisa naik sampai puncak dengan tangga melingkar. 

Monumen Braja Sandhi
Setelah dari monumen, kami pun menikmati santap siang menuju sore di Ayam Bakar Taliwang Khas Lombok di Denpasar. Disini kami makan agak mahal, per porsi Rp. 55.000. Kami menikmati satu ekor ayam kampung bakar per orang, ditambah tahu penyet dan plecing kangkung. Berbeda dengan bayanganku tentang sambel Lombok yang pedas, ayam bakar Taliwang ini malah disajikan dengan sambel yang lumayan manis, pas untuk menemani ayam bakarnya yang sedap.

Ayam Bakar Taliwang Khas Lombok di Denpasar
Setelah makan, kami pun menuju destinasi terakhir kami di Bali, yaitu Tanah Lot. Inilah pertama kali aku menginjakkan kaki ke Tanah Lot, dengan biaya masuk Rp. 10.000 per orang. Sebelum menuju pura dan pantai, kita disambut oleh pedagang pakaian khas Bali yang harganya termasuk murah. Masuk ke wilayah pantai, ada beberapa pura yang bisa kita kunjungi, salah satunya adalah Gua yang di dalamnya terdapat Ular Suci. Namun karena sudah dekat maghrib, kami hanya berfoto-foto di sekitar salah satu pura yang gambarnya mewakili Tanah Lot, lalu menikmati sunset terakhir di Bali.

Pura yang menjadi ikon Tanah Lot

Sunset indah di Tanah Lot

Setelah matahari terbenam, tetapi masih tersisa cahayanya, sebelum berganti malam
Wisata kali ini, aku benar-benar menikmati terbit dan tenggelamnya matahari, yang waktunya begitu singkat, hanya beberapa detik saja. Waktu-waktu yang selalu aku lewatkan dalam keadaan sadar di ibukota. Tiga hari memandangnya, luar biasa mengingatkan pada kekuasaan Allah swt dan keindahan alam yang Ia ciptakan. Sejenak melupakan hiruk pikuk Jakarta, melupakan masalah hidup dan kegalauan yang menumpuk. Hikmahnya lagi, setiap pemandangan sunset selalu berbeda, di tempat yang berbeda, dengan rasa yang berbeda. Jika aku bandingkan dengan pengalaman sebelumnya, bahkan di tempat yang sama dengan orang yang berbeda pun rasanya beda. Begitulah hidup, setiap harinya punya cerita, punya kenangan yang berbeda. Nikmatilah, dan jadilah yang terbaik untuk setiap harinya. Mengenai misteri di masa depan yang aku masih penasaran? Sudahlah, tidak usah buru-buru, semua akan indah pada waktunya.