Tampilkan postingan dengan label Bungopedia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bungopedia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2016

Vaksin Meningitis Untuk Haji/Umrah di RSUP Fatmawati Jakarta Selatan

Sedikit mau bagi2 pengalaman tentang vaksin meningitis buat persiapan umroh nih.

Persis hari ini, 21 Oktober 2016 aku dan temenku Mbak Anne melakukan vaksin meningitis yang biasanya cuma bisa di KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan), kami lakukan di RSUP Fatmawati yang jaraknya hanya 750 m dari kosanku.

Sebelum cerita tentang pengalamanku, sebaiknya kita ulik dulu kenapa vaksin meningitis itu perlu. 
Meningitis adalah peradangan atau pembengkakan pada membran pelindung otak atau saraf tulang belakang (meninges). Peradangan ini terjadi karena infeksi akibat cairan di sekitar otak dan tulang belakang, disebabkan oleh bakteri atau virus, dan merupakan epidemik (wabah) di Afrika dan Timur Tengah. Itulah kenapa salah satu persyaratan pelaksanaan haji/umroh adalah dengan vaksin meningitis, yang berlaku selama 2 tahun. Ada juga penyakit MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrom yang disebabkan oleh Coronavirus), jadi disarankan untuk full stamina dan pakai masker selama beribadah nanti.

Pelaksanaan vaksin meningitis di Jakarta dapat dilakukan di :
  1. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas 1 Bandara Soekarno Hatta Jl. Area Perkantoran Bandara Soekarno Hatta 19120. Pelayanan Hari Senin – Jum’at 08.00-16.00.
  2. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas 1 Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur 13610 Telp 021-8000166. Pelayanan Hari Senin – Jum’at 08.00-16.00.
  3. Kantor Induk Pelabuhan Laut Tanjung Priok Jl. Raya Nusantara no. 2 Jakarta Utara Telp 021-43931045. Pelayanan Hari Senin – Jum’at 08.00-15.30.
  4. RSUP Persahabatan Rawamangun, Jl.Persahabatan Raya No.1 Rawamangun Jakarta Timur 13240. Telp 021-4891708
  5. RSUP Fatmawati, Jl. RS Fatmawati, Cilandak Barat, Kec. Cilandak`, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12430. Telp 021-7501524 Pelayanan Hari Senin – Jum’at 08.00-13.00.
Berawal hari Kamis aku menghubungi dengan tujuan agar memastikan bahwa benar RSUP Fatmawati menyediakan layanan tersebut. Dan petugas pun menyarankan aku untuk sudah mengambil nomor antrian jam 4 pagi karena kuota hanya untuk 150 orang.

Dan beginilah prosedur vaksin meningitis di RSUP Fatmawati :

Yang harus disiapkan :
1. Fotokopi paspor dan fotokopi lembaran paspor dengan 3 nama.
2. Foto 4x6 2 lembar
3. Uang tunai Rp. 305.000

1. Pengambilan nomor antrian
 Ga tau ya, orang-orang udah pada ngantri dari jam berapa, yang jelas aku nyampe RS jam 04.15 dan mendapat nomor antrian 44-45.

2. Pendaftaran nama
Setelah balik lagi ke kosan, jam 05.45 mulai dari nomor urut 1 sudah disuruh isi nama di blanko pendaftaran ulang sambil menyerahkan nomor antrian yang tadi didapat. Setelah itu, silakan cari sarapan dulu.

3. Pengambilan formulir
Jam 07.30 sudah mulai pengambilan formulir dan dipanggil per 10 nomor, dipanggil nama sesuai dengan yang kita catet sebelumnya, kemudian kita menyerahkan foto (1 lembar) dan fotokopi paspor ke petugas. Petugas akan memberikan formulir yang di-stapler bersamaan dengan foto dan fotokopi paspor dan juga nomor antrian yang baru (nomor yang sama, tapi beda kertas aja). Prosesnya cepet jadi harus standby.

4. Pembayaran  
Jam 08.30 kemudian kita melakukan proses pembayaran di kasir dan menyerahkan formulir yang telah diisi bersama dokumen pendukung. Petugas kemudian akan men-stempel dokumen kita, lalu menyimpan dokumen tersebut untuk kemudian input data ke buku kuning.

5. Proses Vaksinasi
Proses penyuntikan cepet banget. Kita dipanggil per 10 nomor yang dimulai setelah cluster nomor 1-10 selesai pembayaran (kira-kira jam 08.40). Vaksin disuntikkan di lengan kiri (bawah bahu), jadi persiapkan pakaian yang mudah ditarik dari atas (untuk wanita berjilbab), atau baju yang lengannya longgar yang bisa digulung sampe bahu.  

6. Pengambilan buku kuning
Menunggu sebentar setelah suntik, buku kuning sudah jadi (sekitar pukul 09.30).

Beres deh. Prosesnya cepat. Namun perjuangkan diri untuk bangun pagi agar bisa dapet antrian di awal-awal.

Berikut dokumen pendukung ya..


Senin, 27 Agustus 2012

My Mom's Rendang Recipe...



"I can't cook.." 
Kata2 diatas mungkin bakal jadi pengakuan dosa pertamaku saat diminta jadi istri orang nanti. Hahaha... Sejak kecil aku tuh pemalas kalo disuruh ke dapur, apalagi punya kakak cewek (Uni) yang suka bantu Mama di dapur. Alhasil, sampe SMP aku sukanya main keluar rumah, cuma bisa cuci piring atau sapu2 lah... Waktu SMA aku pun merantau, jadinya aku ga punya banyak waktu buat belajar masak dari Mama. Tapi sejak merantau itu, aku mencoba memanfaatkan waktu yang sempit kalo liburan di rumah itu buat belajar masak (biasanya lebaran ama libur kenaikan kelas). Dan hasilnya, bolehlah kalo buat masakan padang sehari2 di rumah. Tapi, oho, jangan tanya aku menu yang aneh2, misalnya menu2 yang cuma ditemukan di Pulau Jawa kayak sayur lodeh, cah kangkung, cumi telor asin, ayam bakar kecap, dll.. Masih panjang waktu buat belajar, hehe...

Satu masakan yang bisa aku banggakan adalah rendang buatan Mama. Walo kalo lagi bikinnya aku bagian asisten aja (hehehe..) dan aku jadi penikmat utamanya (soalnya nih rendang selalu dibawa ke Bandung, haha...) Setidaknya, hal yang membedakan rendang Mama sama rendang2 lainnya (menurut aku..) itu adalah keaslian bahan2nya. Sesuai nama Mama (kata Mama) yaitu murni, jadi bahan2nya yang murni2 aja. Mungkin di beberapa pemasak rendang yang lain, mereka menambahkan rempah2 lainnya, atau bumbu pemasak, dll. Kalo Mama sih, tinggal tambah garam aja, kadang pake Roy*o biar lebih maknyos.

Ini nih, resep 1 kg daging rendang yang kalo udah dimasak jadi gak sekilo ini, wkwkwk....

Bahan :
1 kg daging sapi yang udah dipotong2
1 kg santan pekat
1 kg santan encer
250 gram cabe merah
100 gr bawang merah
100 gr bawang putih
100 gr lengkuas
25 gr jahe
250 gr ubi kering (atau kentang kecil juga boleh)
Sedikit daun jeruk purut, daun kunyit, sereh, daun salam
Garam dan bumbu penyedap secukupnya

Cara membuat :
1. Semua bawang merah, bawang putih, cabe dan
santan encer ke dalam blender, lalu diblender.
2. Tuangkan santan pekat dalam kuali, dan juga seluruh daun2an.
3. Masukkan bahan yang diblender ke dalam kuali.
4. Lalu masak dan aduk sampai mendidih, jangan lupa tambahkan garam dan bumbu penyedap sesuai selera.
5. Setelah mendidih, masukkan daging, tetap aduk sampai matang.

Bagian diatas sudah dapat dimakan, dengan nama "kalio". Untuk menjadikannya rendang yang warnanya lebih kehitaman, sehingga dapat disimpan hingga 1 bulan, diperlukan usaha mengaduk kuali dalam jangka waktu lebih lama (1-2 jam lah..) Masukkan ubi kering sebelum rendang benar2 kering.

photo by Indriana A.

Selasa, 03 April 2012

Beberapa Lirik Lagu Tari Minang

Hal ini berawal karena aku latihan tari Saman (Aceh). Rasanya kurang nyaman menghafal lagu yang kita tidak tahu kata2 yang benarnya, dan juga artinya. Makanya aku mau share beberapa lirik lagu tari Minang yang aku pelajari di Unit Kesenian Minangkabau ITB, waktu aku masih aktif di unit dulu. Ini beberapa saja, dan aku kasih artinya juga dikit, walo ga semuanya aku - sebagai orang Minang - mengerti artinya.


1. Tari Pasambahan

Ini diucapkan pas carano berisi sirih dipersembahkan pada tamu kehormatan.


Dari japun handak ka japun
Cino mamuek pacah balah
Ampun baribu kali ampun
Ampunkan ambo jo niniak ambo nan gadang basa batuah

Buruang si ngurak buruang si nuri
Manari-nari ateh pamatang
Siriah galak pinang manari
Mancaliak tuan nan alah datang

Anau kaciak sagonyo rapek
Rapek nan tolong dirunduakkan
Runduakkan baa ka dalam banda

Kami kaciak jolong nan dapek
Dapek nan tolong ditunjuakkan
Tunjuakkan baa ka nan bana

Tambilang di rumpun lansek
Tasisiak di ruang lantai
Kami bilang sado nan dapek
Nan tingga untuak rang pandai

Apolah nan manjadi adaik di nagari
Siriah bacabiak pinang bagatok
Timbakau bacucuik kapua babasah
Siriah sacabiak lah mintak dimakan
Pinang sagatok lah mintak dikunyah

Ikolah siriah dalam carano
Tandonyo kito baputiah hati
Etanlah ambo punyo sambah
Jo wassalam kami sudahi

Artinya :
"Dari japun (ga tau artinya, hehe...) hendak ke japun
 Cina memuat pecah belah
Ampun beribu kali ampun
Ampunkan saya dan nenek saya yang besar bertuah

Burung ngurak (burung yang rontok bulunya) burung nuri
Menari-nari diatas pematang
Sirih tertawa pinang menari
Melihat tuan yang sudah datang

Enau kecil, saganya rapat
Rapat yang tolong dirundukkan 
Rundukkan bagaimana ke dalam kali

Kami kecil, baru bisa dapat
Dapat yang tolong ditunjukkan
Tunjukkan bagaimana yang benar

Tembilang di rumpun duku
Tersisik di ruang lantai
Kami hitung semuanya dapat
Yang tinggal untuk orang pandai

Apalah yang menjadi adat di negeri
Sirih disobek pinang dicuil
Tembakau dihisap, kapur dibasahi
Sirih sesobek sudah minta dimakan
Pinang secuil sudah minta dikunyah

Inilah sirih dalam carano (hm, ga tau bahasa Indonesianya)
Tandanya kita berputih hati
Demikianlah saya punya sembah
Dengan wassalam kami sudahi"

2.  Tari Piriang

Nah, kalo lagu tari piring ini termasuk lagu favorit aku..

Anak urang Sabuak Andaleh yo tuan
Singgah ka rumah si Sutan Mudo si Sutan Mudo

Bia abih bialah tandeh yo tuan
Hati den kanai ka baa juo ka baa juo

Indak dapek musim manyiang yo tuan
Musim manuai den nanti juo den nanti juo

Indak dapek sarago bujang yo tuan
Baranak ampek den nanti juo den nanti juo

Artinya :
"Anak orang Sabuk Andalas ya tuan
Singgah ke rumah si Sutan Muda si Sutan Muda

Biarlah habis biarlah tandas ya tuan
Hatiku terkena mau bagaimana lagi mau bagaimana lagi

Tidak dapat musim menyiang ya tuan
Musim menuai ku nanti juga ku nanti juga

Tidak dapat seraga (saat masih) bujangan ya tuan
Beranak empat ku nanti juga ku nanti juga"

3. Tari Piriang Manggaro

Nan lah tarang nan lah tarang
Yo lah candonyo hari
Nan lah tampak cahayo bintang
Nan lah tampak cahayo bintang
Iyo iyo lah rang mudo oi

Nan lah sanang nan lah sanang
Yo lah candonyo hati
Lai tampak pulo ka parintang
Lai tampak pulo ka parintang
Iyo iyo lah rang mudo oi

(Dima gandang mangucapkan,
Disinan kaki dihantakkan,
Dantiang dantiang piriang di rumah nan gadang)

Lalu malereang yo malereang yo lah ka tabiang tinggi
Bulu basangko ramo-ramo, bulu basangko ramo-ramo
Iyo iyo lah rang mudo oi

Samuik tapijak yo tapijak yo lai indak mati
Alu tataruang patah tigo, alu tataruang patah tigo
Iyo iyo lah iyo, iyo iyo, iyo lah iyo, iyo iyo
Iyo lah rang mudo oi

Ondeh iyo lah Salasa balai lah rang Solok
Rami lah dek anak nan mudo-mudo
Taruih lah diak kanduang ondeh taruih lah malenggok
Bia lah nak kami ndeh kanduang nan mandendangkan

Artinya :
"Yang sudah terang yang sudah terang
Ya lah candanya hari
Yang sudah tampak cahaya bintang
Yang sudah tampak cahaya bintang
Iya iya lah orang muda oi

Yang sudah senang yang sudah senang
Ya lah candanya hati
Ada kelihatan pula perintang
Ada kelihatan pula perintang

Iya iya lah orang muda oi

(Dimana gendang mengucapkan,
Disitu kaki dihentakkan,
Denting denting piring di rumah yang besar)

Lalu melereng ya melereng ya lah ke tebing tinggi
Ulat bulu disangka kupu-kupu, ulat bulu disangka kupu-kupu
Iya iya lah orang muda oi

Semut terinjak ya terinjak ya tidak mati
Bambu tersenggol patah tiga, bambu tersenggol patah tiga
Iya iya lah iya, iya iya, iya lah iya, iya iya
Iya lah orang muda oi

Aduh iya lah selasa balai lah orang Solok
Ramai karena anak muda-muda
Teruslah dek kandung aduh teruslah melenggok
Biarlah kami aduh kandung yang mendendangkan"

4. Tari Garak Kambang

Batu lah sangka
Batu lah sangka lah dindin oi balantai batu
Baralah juo lah dindin oi labuah basilam

Lah babuai lah kito babuai
Lah mamak oi nan lah babuai lah taisak alun
Lah mamak oi nan lah babuai lah taisak alun

Nan kok dapek nan kandak sasuai
Lah mamak oi cadiak alah oi gadang alun
Lah mamak oi cadiak alah oi gadang alun

Oi andam oi tuan oi
Cadiak alah oi gadang alun
Oi andam oi tuan oi
Cadiak alah oi gadang alun

Artinya :
"Batu lah sangkar (maksudnya Batusangkar, salah satu kota di Sumbar)
Batu lah sangkar lah dindin oi (hmm, penikmat kata2 aja) berlantai batu
Berapa lah juga lah dindin oi labuh bersilam

Sudah berbuai lah kita berbuai
Lah emak oi yang sudah berbuai tapi terisak belum
Lah emak oi yang sudah berbuai tapi terisak belum

Yang kalau bisa kehendak sesuai
Lah emak oi cerdik sudah oi besar belum
Lah emak oi cerdik sudah oi besar belum 

Oi andam oi tuan oi
Cerdik sudah oi besar belum
Oi andam oi tuan oi
Cerdik sudah oi besar belum"

5. Tari Gandang

Tari banamo tari gandang
Tari nan anak mudo-mudo
Dari ketek kok lah gadang
Usahlah lupo jaso bundo

Artinya :
"Tari bernama tari gendang
Tari yang anak muda-muda
Dari kecil jika sudah besar
Jangan lupa jasa bunda"

6. Tari Payung

Babendi-bendi, ka Sungai Tanang
Aduhai sayang, babendi-bendi
Ka Sungai Tanang, aduhai sayang
Singgahlah mamatiak, singgahlah mamatiak
Bungo lambayuang
Singgahlah mamatiak bungo lambayuang

Hati siapo, indak ka sanang
Aduhai sayang, hati siapo
Indak ka sanang, aduhai sayang
Maliek rang mudo, maliek rang mudo
Manari payuang
Maliek rang mudo manari payuang

Artinya :
"Berdelman-delman, ke Sungai Tenang
Aduhai sayang, berdelman-delman
Ke Sungai Tenang, aduhai sayang
Singgahlah memetik, singgahlah memetik
Bunga lembayung
Singgahlah memetik bunga lembayung

Hati siapa, tidak akan senang
Aduhai sayang, hati siapa
Tidak akan senang, aduhai sayang
Melihat orang muda, melihat orang muda
Menari payung
Melihat orang muda menari payung"

Sabtu, 13 Agustus 2011

FTV Jadul - "Jangan Panggil Aku Cina"

Aku mau berbagi sedikit tentang sebuah film yang selalu terngiang2 sejak tahun 2002 pertama kali film ini tayang di FTV SCTV sampai sekarang. Judulnya "Jangan Panggil Aku Cina", yang dibintangi oleh Leony dan Teddy Syah, lokasi syuting di Sumatera Barat. Ceritanya sangat riil, sebagai orang Minang aku mengakui konflik yang ada dalam film ini memang sering dipertanyakan dan diperdebatkan orang2 Minang sendiri. Alhamdulillah film ini tayang dan mengedukasi banyak masyarakat, namun sayangnya film ini hanya FTV, tidak booming di bioskop, dan acting pemerannya masih sangat minimalis. Aku berharap film ini di-remake, secara ceritanya sangat bagus dan bermanfaat dan OST-nya juga menyentuh hati.

====

Cerita berawal dari seorang gadis keturunan Cina bernama Olivia (Leony) atau Pia, yang tinggal di Pondok (Pecinan di kota Padang). Keluarganya miskin, ia hidup dengan ibu, nenek dan seorang kakak laki2 angkat yang bukan orang Cina. Dari kecil ia sudah berteman dengan orang2 Minang, sehingga dia merasa dirinya adalah gadis Minang, dan ingin menikah sebagaimana adat Minang. Sementara itu, kakak laki2 angkatnya Remon, suka berjudi. Uang penghasilan dari penjualan usaha keripik balado keluarga pun diambil Remon untuk berjudi, sampai ia tak sanggup lagi membayar hutang2nya.

Suatu hari, seorang dokter yang baru bekerja di sebuah Puskesmas bernama Yusril (Teddy Syah) dimintai pertolongan oleh anak pertama dari mamaknya (mamak adalah saudara laki2 dari ibu) untuk membeli keripik balado di malam hari. Takdir mempertemukan ia dengan Pia, satu2nya toko keripik balado yang masih buka saat itu. (Sebagai orang Padang aku mengakui, yang jualan keripik balado di Padang emang orang Cina semua, wkwkwkwk...) Yusril pun membawa keripik balado pesanan itu ke rumah Mamaknya.

Yusril yang baru saja diangkat menjadi dokter tentu saja menarik perhatian keluarga Mamaknya. Apalagi Mamaknya-lah yang membiayai biaya perkuliahan Yusril. Istri si Mamak pun terfikir untuk menjodohkan Yusril dengan putri keduanya, Ana. Hal ini yang kita sebut dengan baliak ka bako, dimana anak dari seorang laki2 menikah dengan salah satu anggota keluarga besar laki2 tersebut. (Bako adalah keluarga ayah) Dan di usianya yang sudah hampir 30 tahun, ternyata Ana juga sudah lama memendam rasa pada Yusril. Maka ibu Ana pun sangat bersemangat menjodohkan Ana dan Yusril, apalagi beliau sangat yakin Yusril akan menerima pernikahan tersebut, karena sudah sepatutnya kemenakan yang sudah dibiayai sekolahnya oleh mamaknya mematuhi perintah mamaknya, termasuk menikahi anak dari mamaknya.

Di sisi lain, Yusril dan Pia pun semakin saling mencintai. Suatu saat, Pia dimintai tolong untuk merias pengantin. Disaat itulah dia baru mengetahui bahwa laki2 yang berasal dari Pariaman itu dibeli dengan uang penjemput. Uang penjemput merupakan adat yang dahulunya dipakai di seluruh daerah di Sumatera Barat. Namun kemudian tinggal beberapa daerah saja yang masih memakai adat itu, contohnya Padang dan Pariaman. Uang penjemput itu bukan untuk membeli laki2, tetapi sebagai penghormatan kepada keluarga laki2 yang telah membesarkan anak laki2 tersebut, karena untuk selanjutnya laki2 akan bertanggung jawab pada keluarga barunya. Pia pun diberi tahu bahwa laki2 bertitel dokter dan insinyur memiliki harga yang paling tinggi di Pariaman.

Betapa hancur hati Pia, ketika mengetahui ternyata Uda Yusril adalah orang Pariaman, dokter pula. Namun Yusril tak gentar, ia tetap melamar Pia dan memperkenalkan Pia pada ibunya. Ibu Yusril sangat marah karena wanita pilihan Yusril adalah gadis Cina. "Kenapa harus Cina, nak? Masih banya gadis Minang yang cantik2! Lalu bagaimana dengan agamanya?" Kemudian Yusril meyakinkan bahwa memang masih banyak gadis Minang yang cantik, tetapi pilihan hatinya jatuh pada Pia. Dan untuk urusan agama, ia yakin Pia bisa mengikuti suaminya.

Hal ini pun sampai ke telinga keluarga Mamak. Mereka pun kesal, kemudian menyampaikan syarat kepada Yusril apabila Yusril tidak mau menikahi Ana, yaitu Pia harus membayar uang penjemput sebesar 40 juta (ingat, ini settingannya tahun 2002 loh..). Ibu Yusril yang awalnya sudah merestui hubungan Yusril dan Pia pun jadi bingung. Bagaimana mungkin Pia bisa membayar 40 juta sementara keluarga Pia sangat miskin. Diam2, Yusril menjual mobilnya dan mendapat uang 20 juta dari penjualan mobilnya.

Sementara di keluarga Pia sendiri, ternyata nenek Pia menyimpan koin2 berharga yang nilainya bisa mencapai 40 juta. Beliau tidak pernah memberitahukan siapapun tentang koin2 emas itu, hingga akhirnya ada saat yang tepat untuk mengeluarkannya. Namun ternyata Remon pun memiliki hutang dengan nilai yang sama. Dan apabila tidak dibayarkan, rumah mereka akan disita. Pia pun mulai mengalah dan berniat menunda pernikahannya dengan Yusril dan membiarkan uang dari koin2 emas itu dibayarkan untuk hutang Remon. Namun ternyata Yusril mengajukan usul lain, ia punya 20 juta, dengan meminjam uang 20 juta lagi, mereka tidak perlu menunda pernikahan mereka.

Setelah perenungan panjang di keluarga Mamak, begitu juga Ana yang kemudian ikhlas melepas Yusril, mamak pun kemudian tidak tega melihat kondisi kemenakannya. Ia pun memanggil Yusril dan memberikan Yusril uang tunai 40 juta. "Uang itu silakan kau pakai untuk melanjutkan kuliahmu. Aku tidak keberatan kamu menikah dengan siapapun, jika itu wanita pilihanmu, aku tidak akan ikut campur. Maka aku membatalkan syarat uang penjemput itu." Yusril pun berterima kasih pada Mamaknya, dan kemudian ia dapat melangsungkan pernikahan dengan Pia, dengan uang penjemput simbolis menggunakan uang yang diberikan oleh Mamak sendiri, yang dibuat seolah2 berasal dari Pia.

====

Hikmah dari cerita diatas adalah, jikalau cinta, maka berbagai macam kesulitan dapat diatasi bersama, dan jika jodoh maka Tuhan akan selalu menunjukkan jalan terbaiknya. Jodoh itu di tangan Tuhan, bukan di tangan manusia. Manusia boleh berusaha, tapi Tuhan yang menentukan. Tidak ada persyaratan suku dalam hal jodoh.

Selain itu, pesan lain yang tersirat adalah mengenai adat Minang, terutama adat "membeli" di Pariaman. Memang ada makna tertentu yang tersirat dalam "uang penjemput" itu. Tapi di zaman modern ini, sudah sedikit keluarga yang masih menggunakan adat tersebut. Lagipula, hal itu hanya sekedar simbolis, mengenai dari mana uang itu berasal, bisa saja didiskusikan antara keluarga, karena untuk selanjutnya pemakaian uang tersebut juga akan tergantung oleh keluarga masing2. Apakah untuk keluarga baru kedua mempelai, atau untuk keluarga pihak laki2 saja, dsb.

Film ini lumayan menjawab banyak pertanyaan tentang adat Minang beli membeli yang satu ini, yang aku sendiri juga ribet mikirinnya. Kalau pendapat aku sendiri sih, keluarga yang baik adalah yang tidak mematok uang penjemput, karena anak laki2 yang mereka besarkan toh tidak bisa dinilai dengan uang, karena sebanyak apapun uang tak akan bisa membeli seorang laki2 Minang. :)

Jumat, 05 Agustus 2011

Puisi Sepanjang Masa

Aku pengen berbagi dikit sebuah puisi sepanjang masa yang selalu aku suka, sejak SD waktu pertama kali aku denger puisi ini di pelajaran Bahasa Indonesia, ampe sekarang, dan mungkin ampe masa yang akan datang. Karena maknanya.. terlalu indah dan terasa sampe ke hati.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan api kepada kayu
yang menjadikannya abu…

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada…

Karya : Sapardi Djoko Damono 


Puisi ini menyatakan ketulusan cinta seseorang. Kita akan mencintai seseorang dengan sederhana, tanpa meminta yang macam2, dan membiarkannya mengalir begitu saja. Memberikan perhatian, namun tak sempat mengungkapkan, bahkan hingga suatu saat cinta itu pun hilang begitu saja.

Tapi ya udah, biarin aja. Karena kita hanya mencintai seseorang dengan sederhana, tanpa harapan dan perhatian yang berlebihan. Tapi, kok katanya "ingin" ya.. Jangan2 pada kenyataannya, si penulis "terlalu" mencintai seseorang yang meninggalkannya, tapi ia berusaha agar cintanya tidak sedalam yang dia rasakan, karena ia harus mengikhlaskan. Jadi... ??? (i also still don't get the meaning of this poem *sigh..)